Berita

Export Dibuka Dapat Pacu Peburuan Benih Lobster Semakin Ramai

Export Dibuka Dapat Pacu Peburuan Benih Lobster Semakin Ramai

Penampikan koreksi Ketentuan Menteri Kelautan Serta Perikanan Nomor 1/2015 mengenai Penangkapan Lobster, Kepiting serta Rajungan atau pembukaan kran export baby lobster disuarakan masyarakat Desa Bagolo Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran. Daerah desa ini punya pantai selama 11 Km dengan bentangan batu karang sebagai habitat lobster. Lebih dari 157 kepala keluarga di desa itu gantungkan sumber penghidupan dari memburu lobster serta hasil laut yang lain.

“Daerah kami penghasil lobster, 157 nelayan tiap hari menempatkan jaring lobster. Tetapi kami benar-benar sedih adanya wawasan export benur lobster,” kata Kepala Desa Bagolo, Rahman Hidayat. Ia menjelaskan wawasan atau ketetapan itu dapat mengakibatkan kerusakan tatanan serta perilaku nelayan di wilayahnya yang sampai kini telah berlaku arif dalam manfaatkan kekuatan laut. Kepatuhan nelayan Bagolo pada larangan tangkap baby lobster sampai kini telah terjaga. Mereka sudah mengerti jika kelestarian ekosistem tambah lebih penting dibanding keuntungan sekejap. Mereka cuma tangkap lobster yang telah wajar mengonsumsi.

Baca juga : Mendikbud Lihat, Ini Ketentuan Masuk SMP, SMA, Serta SMK Pada PPDB 2020

“Kami sepakat untuk masih dilarang penjualan ditambah lagi export baby lobster. Sebab nanti akan mengakibatkan kerusakan serta merusak usaha nelayan sendiri dari sisi pendapatan,” kata Rahman. Ia minta pemerintah masih tegas menegakkan ketentuan yang dibikin oleh bekas Menteri KKP Susi Pudjiastuti, bila tidak ingin lobster punah dari lautan Indonesia. Rahman mensinyalir ada pelaku atau mafia di balik export ini. “Jika bisa mafia atau pelaku itu diberi hukuman oleh nelayan saja. Rek dikarungan dialungkeun ka laut pelaku na (Ingin dimasukkan karung dibuang ke laut oknumnya),” kata Rahman sekalian melempar senyum.

Comment here